Merekayasa Ide Menjadi Inovasi

Halo Metagrafian!

Ketika aku duduk di bangku sekolah dasar, aku senang sekali mengoleksi Komik Seri Tokoh Dunia terbitan Elex Media Komputindo. Seri komik ini merupakan biografi tokoh-tokoh berpengaruh dalam sejarah manusia yang diilustrasikan dalam bentuk komik hitam-putih.

Beberapa tokoh penemu atau inventor diilustrasikan dalam seri tokoh ini, mulai dari penggagas landasan teori, seperti Aristoteles, Galileo Galilei, Sir Isaac Newton, dan Albert Einstein, hingga dari penemu barang, seperti Wright Bersaudara, Alexander Graham Bell, Alfred Nobel, dan James Watt. Berkat seri komik inilah, sejak SD aku sudah memiliki mimpi untuk bisa menghasilkan suatu penemuan (invention) fenomenal.

Namun, apa itu sebenarnya invention? Apa bedanya dengan innovation?

Setelah menjalani perjalanan hidup sampai saat ini, masih dengan memegang teguh mimpi yang sama, aku akhirnya sadar bahwa menghasilkan invention adalah hal yang cukup erat dengan kekreatifan.

Berdasarkan buku Biang Inovasi karangan Yoris Sebastian, invention merupakan hasil dari suatu gagasan baru yang sebelumnya belum ada, memiliki nilai manfaat, dan dapat diproduksi dalam bentuk nyata, namun tidak harus diproduksi secara massal kepada masyarakat. Contohnya Alexander Graham Bell yang menciptakan telpon listrik.

Bell jelas merupakan seorang inventor, karena menemukan suatu alat yang sebelumnya belum ada. Namun, Bell hanya sebatas menciptakan telpon listrik, tidak sampai menyebarluaskan karyanya kepada masyarakat.

INNOVATION = INVENTION + EXPLOITATION

Berkebalikkan dengan invention, innovation tidaklah harus suatu gagasan atau produk yang benar-benar baru, namun lebih ke arah mengenalkan gagasan atau produk tersebut kepada konsumen agar dapat digunakan secara massal.

Pada hakikatnya, suatu innovation menggunakan gagasan atau produk dari invention, lalu dieksploitasi dan direkayasakan secara kreatif agar bisa dikonsumsi secara massal. Dalam kata lain, menghasilkan innovation tidaklah harus suatu gagasan revolusioner yang mengubah dunia, melainkan harus bisa memanfaatkan ide-ide yang ada di sekitar kita untuk bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain secara konkret.

“Nothing is original. Steal from anywhere that resonates with inspiration or fuels for imagination.” – Jim Jarmusch


Bermanfaat Untuk Orang Lain

Menjadi seorang inventor ataupun innovator erat kaitannya dengan menjadi kreatif. Namun, tidak hanya itu. Ada poin yang jauh lebih penting lain, yakni bermanfaat untuk orang lain.

RELATED POST:  Mengubah Cara Pandang Terhadap Kreativitas

Dalam buku ini, Yoris menjelaskan beberapa poin, seperti solve the problem in the office, solve the problem i home, solve other people’s problem, save the earth, dan helping other.

Pada hakikatnya, seseorang berinovasi karena ada masalah yang perlu diselesaikan. Tidak bisa kalau kita hanya mengincar kemenangan dalam suatu kompetisi inovasi, bila tidak ada masalah yang kita angkat. Masalah sesimpel kurangnya efisiensi dari suatu barang sudah cukup kuat untuk memulai berinovasi, karena pada akhirnya itu akan bermanfaat untuk orang lain.

“Tanyakan ini: apa yang bisa saya ubah atau tambahkan dari benda ini, sehingga kegunaannya dan nilainya bisa meningkat?” – Yoris Sebastian


Belajar Berinovasi

Setelah membaca buku Biang Inovasi ini, aku mengambil suatu kesimpulan: sebelum kita bisa ‘mencipatkan’ sesuatu, kita harus bisa ‘merekayasa’ sesuatu yang sudah ada. Oleh sebab itu, saat ini aku coba simpan dahulu ambisiku untuk menjadi seorang inventor dan belajar terlebih dahulu bagaimana untuk menjadi seorang innovator.

Sebenarnya, proses belajar berinovasi sudah aku rasakan sejak kecil, seperti bagaimana aku mencari jalan tercepat dan ternyaman menuju sekolah, bagaimana aku menyelesaikan permasalahan yang pernah dihadapi organisasi yang aku ikuti, dan bagaimana aku meningkatkan metode belajar yang baik bersama-sama teman-teman. Apakah itu benar-benar termasuk bentuk berinovasi? Menurut buku Biang Inovasi, sebenarnya ada tiga jenis inovasi:

  1. Product Innovation: Menambahkan nilai guna dari produk yang sudah ada.
  2. Process Innovation: Mengenalkan metode yang lebih efisien dan efektif dalam melakukan suatu pekerjaan.
  3. Quality Innovation: Meningkatkan kualitas dari produk atau jasa.

“Creativity is skill. Innovation is process.” – Yoris Sebastian

Setelah tahu apa saja jenis-jenis dari inovasi, tentunya kita harus tahu bagaiama tahapan inovasi dapat tercipta. Sebagai calon engineer, seseorang yang menyelesaikan permasalahan di masyarakat, aku sudah belajar mata kuliah tahapan menyelesaikan masalah. Dan ajaibnya, ini cukup persis dengan tahapan berinovasi versi Yoris Sebastian. Sehingga, sekali lagi bisa kita sama-sama pahami, bahwa menyelesaikan masalan dan berinovasi adalah satu hal yang sama, yakni harus terdiri dari:

RELATED POST:  The Power of Thinking Without Thinking

1. Identifikasi masalah, kebutuhan, dan peluang.
2. Menciptakan ide-ide untuk memecahkan masalah, kebutuhan, atau peluang.
3. Memilih dan mewujudkan ide-ide yang dianggap baik.
4. Menghasilkan nilai (value) dari ide.

Namun, sering sekali orang-orang menganggap proses berinovasi adalah proses yang sulit dan berat. Maka dari itu, sebelum kita benar-benar yakin untuk memulai berinovasi, kita harus belajar berinovasi terlebih dahulu.

Dalam buku Biang Inovasi ini, dijelaskan mengenai tips and trick how to be innovative dan make creative products that matters. Intinya, di sini kita dijelaskan mengenai dari mana saja ‘sumber inspirasi’ dapat hadir.

Salah satu yang paling menarik perhatianku adalah topik insight from social media timeline di mana kita bisa belajar berinovasi dan menemukan sumber inspirasi dari timeline LINE, twitter, Facebook, atau Instagram kita.

Seperti yang kita tahu, ledakan informasi sedang terjadi di sosial media, di mana setiap harinya kita bisa saja mendapat ratusan hingga pengetahuan baru dengan sesimpel ‘mengikuti’ akun-akun penyebar informasi, walaupun kredibilitasnya cukup rendah. Dari sini, menurut buku Biang Inovasi, ada 4 tipe netizen yang berada di internet, yaitu:

1. Kelana
Hampir sebagian besar dari diri kita adalah seorang kelana, atau hanya sekedar browsing informasi. Tipe orang seperti ini biasanya hanya men-scroll timeline sosial medianya, sesekali berhenti ketika menemukan sesuatu yang menarik, dan kembali men-scroll.

2. Kolektor
Kolektor adalah tahap lanjutan dari kelana. Bila kelana hanya membaca sesuatu yang menarik dan lalu lanjut men-scroll, tipe kolektor biasanya senang menyimpan infromasi menarik yang ia baca. Aku senang menyebut istilah ini dengan Think Tank, atau tanki pikiran. Ini adalah tahap paling awal untuk mulai belajar berinovasi. Kelebihan menjadi seorang kolektor ini adalah kita tidak akan lupa begitu saja dengan inofrmasi yang menarik. Bila setiap harinya kita bisa setidaknya menyimpan 10 ide baru, dalam 1 bulan kita sudah mendapat kurang lebih 300 ide.

3. Kritikus
Pemberi kritik dari suatu informasi, itulah kritikus. Kita sekilas sudah sering menemukan kritikus di sosial media. Namun, apakah mereka benar-benar kritikus? Apakah mereka mengkritik berdasarkan landasan pengetahuan yang tepat atau berdasarkan landasan ‘feeling’?

RELATED POST:  Apakah Kamu Mengendalikan Pikiranmu atau Pikiranmu Mengendalikan Dirimu?

4. Kreator
Setelah suka berkelana, menyimpan beberapa hal yang penting, dan berani aktif mengomentari sesuatu, maka seseorang sudah bisa coba untuk menjadi kreator, atau pembuat dari informasi itu.

Saat ini, aku sedang mencoba menjadi seorang Kolektor. Karena bidang yang paling aku minati adalah lingkungan, psikologis manusia, dan energi, setiap kali aku menemukan informasi yang menarik terkai hal-hal itu pasti aku simpan di note smartphone-ku atau sticky note laptopku.

Setiap harinya, aku targetkan mendapat minimal 5 informasi baru, baik itu berupa suatu masalah, ilmu pengetahuan, atau solusi. Kemudian, setiap minggunya, menggunakan 35 informasi baru yang aku dapat, aku coba buat minimal 5 ide baru yang aku kembangkan dari ke-35 informasi itu. Entah aku kombinasikan atau aku modifikasi. Intinya, aku belajar untuk merekayasa ide-ide yang sudah ada, hingga nantinya bisa menjadi suatu solusi inovatif.

Jadi, sebenarnya di sekitar kita tidak hanya bertebaran banyak masalah, melainkan banyak juga ide-ide yang berpotensial untuk menyelesaikan masalah tersebut. Namun, ide itu tidak akan sendirinya membuat masalah selesai, ide butuh manusia untuk direkayasa menjadi suatu produk atau jasa nyata.

Kesimpulan

Maka dari itu, berinovasi mungkin bisa dijadikan hobi baru bila kita gelisah akan banyak masalah di Bumi, di Indonesia, atau di sekitar kita. Mungkin hanya ada beberapa inovasi karya kita yang nantinya benar-benar berhasil menyelesaikan masalah, tapi seperti orang-orang zaman sekarang bilang: Thomas Alpha Edison baru menemukan bola lampu pada percobaannya ke-1000, kalau saja ia menyerah di percobaan yang ke-999, kita tidak dapat menikmati bola lampu seperti sekarang. Terlepas dari validasi cerita itu, kita harus sama-sama percaya bahwa kita bisa jadi orang hebat yang bermanfaat kalau kita tidak mudah menyerah.

Yuk, jadi biang inovasi.

“Orang kreatif itu seperti pendaki gunung. Satu gunung ditaklukkan, ingin menaklukkan gunung yang lain. Satu inovasi dihasilkan, inovasi berikutnya ingin diciptakan.” – Yoris Sebastian

RELATED POST

Leave a Reply

You may also like..