4 Cara Berdamai dengan Perubahan yang Tidak Diinginkan

Halo Metagraf!

Saya tidak meminta ini.

Saya tidak menginginkan hal ini.

Andaikan ini tidak terjadi pada saya, saya tidak akan merasa seperti ini.

Pernahkah terbersit pernyataan-pernyataan seperti itu di benak kalian? Atau jika tidak, pernahkah kalian mengalami patah hati, krisis keuangan, pertemanan yang berubah, beratnya tanggung jawab baru, dan hal-hal lain yang melibatkan rasa sakit, sedih, kecewa, bahkan marah? Emosi yang terasa begitu menyesakkan, membuat hidup seketika terasa begitu sulit?

Aku pernah, sedang, dan masih akan merasakan hal-hal tersebut. Begitupun kamu! How can I be so sure? Bukan, aku bukan Tuhan yang tahu kemana arah hidupmu, aku juga bukan cenayang yang bisa meramal masa depan. Aku cuma tahu, bahwa pada dasarnya, semua itu adalah bentuk perubahan dalam hidup.

Jika kamu mencari penjelasan yang rasional  terhadap perubahan-perubahan yang tidak kamu inginkan dalam hidupmu, yang membuatmu ingin berkemas dan terbang ke pulau terpencil untuk relaksasi sejenak, mungkin buku “How to Survive Change You Didn’t Ask For karya M. J. Ryan adalah pencerahan yang tepat bagi kamu.

“Hidup akan terus berubah, dan perubahan akan terjadi semakin cepat. Sebab, dunia menjadi semakin kompleks dan saling tergantung.”

Satu kalimat itu menghabiskan dua lembar halaman pada buku ini. Tujuh belas kata yang tertempel erat di memori, dan somehow, membuka lebar pikiran dan hati pembacanya.. Perubahan adalah hal yang pasti terjadi, tak peduli bagaimana kita menahan dunia untuk tetap sama. Apa yang dulu kita miliki, akan harus kita lepaskan saat waktunya tiba. Apa yang sekarang begitu banyak dibicarakan, kelak akan tenggelam oleh hal lain, sama seperti siang berganti malam, musim dingin menjadi musim panas. Perubahan pastj terjadi.

RELATED POST:  Menikmati Penyesalan Dengan Menghadapinya

Perubahan memang tidak mudah, ya kan? Terutama bagi mereka yang baru merasakannya.

81c86f2727926d650de5fa5c77cfe1b8

Dalam buku ini, ada beberapa cara yang bisa diaplikasikan dalam menghadapi dan beradaptasi dengan berbagai-perubahan yang tidak sepenuhnya kamu inginkan dalam hidup, yang disebut sebagai pengembangan adaptabilitas, yaitu:

1. Terima Perubahan

Accept it, people! Menolak perubahan dapat membebani pikiran dan menurunkan semangat. Tidak menerima perubahan dapat membuatmu terbelenggu dalam jurang penyangkalan terhadap cara-cara baru untuk mengatasi perubahan. Sulit menerima hanya akan membuatmu melewatkan kesempatan dan peluang lain dalam hidup. Untuk dapat menerima, maka kemampuan beradaptasi atau dalam buku ini disebut adaptabilitas harus senantiasa dikembangkan.

Saat lingkungan berubah dan kita harus menyesuaikan, menggerutu, mengeluh itu pantas dilakukan. Namun, segera tiba waktunya untuk menempatkan diri kembali ke jalurnya dan mulai bergerak. Menyadari dan menerima bahwa perubahan adalah proses yang pasti terjadi, dapat membantu kita menghindari penderitaan dan pemborosan waktu yang tidak perlu, sehingga kita dapat kembali ke jalur kita lebih cepat.


2. Kembangkan opsi yang ada

Memberikan respon terhadap perubahan, terkadang membutuhkan pemikiran dan solusi yang berbeda dari yang kita gunakan di masa lampau. Hey, siapa yang tahu ada hikmah apa di balik suatu kejadian? Di saat menghadapj perubahan yang kompleks, adaptabilitasmu kian ditantang. Bagaimana kamu melihat apa yang bisa dilakukan dengan perubahan itu adalah kunci dari terbukanya pintu-pintu kesempatan baru.

We all should remember, meskipun tidak semua perubahan itu positif, setiap perubahan memberikan kita peluang emas untuk mengunjungi kembali diri kita, dan bertanya dimana kita ingin berada atau apa yang ingin kita lakukan sekarang.


3. Bertindak

Memikirkan opsi-opsi peluang dan kesempatan yang dapat kita lakukan, tidak akan memperpaiki perasaan kita terhadap perubahan, kecuali kita mulai bertindak atas pilihan-pilihan itu. Bertindak tidak berarti kita harus selalu yakin pada satu jalan. Mencoba beberapa hal di saat bersamaan, dan melihat peluang-peluang baru yang potensial bagi anda, menjadi hal yang baik untuk perkembangan dirimu. Contohnya, jika kamu baru saja dipecat,  kenapa tidak mencoba menjadi konsultan public speaking saat  menunggu respon dari lamaranmu menjadi host di sebuah media?

RELATED POST:  The Power of Thinking Without Thinking

Tanpa membuang waktu banyak, kamu tetap memiliki penghasilan, dan masih tetap menjadi konsultan bahkan ketika kamu sudah mendapatkan pekerjaan. Dengan cara itu, kamu menambah penghasilan, relasi, dan pengalaman baru yang dapat dijadikan persiapan untuk menghadapi perubahan berikutnya.

Jangan membiarkan dirimu  menunggu sesuatu yang besar terjadi. Ciptakan sesuatu itu dengan apa yang kamu miliki, terima dirimu dan perubahan yang terjadi, dan bergerak menuju peluang baru yang dapat merubah hidupmu.


4. Perkuat Adaptabilitas

Satu perubahan yang berhasil kita lalui, akan menghadapkan kita pada perubahan yang lain. Untuk itu, Adaptabilitas akan senantiasa perlu untuk dikembangkan. Bagaimana cara mengembangkannya? Sederhana, kita hanya tidak boleh berhenti mencoba hal baru dan belajar. Kita boleh berhenti sejenak hanya untuk  merefleksikan apa yang sudah kita lakukan, dan bagaimana hasilnya terhadap hidup kita, sehingga kita dapat menghargai setiap perubahan yang terjadi dan mempersiapkan diri menghadapi perubahan berikutnya.


Kesimpulan

Membaca “How to Survive Change You Didn’t Ask For” membuatku berpikir bahwa perubahan pasti akan terjadi, dan yang dapat berhasil lebih cepat adalah mereka yang mampu lebih ceoat beradaptasi dan menerima perubahan tersebut. Semakin lama kita berada dalam kebingungan, penyangkalan, dan ketidakinginan untuk bergerak, semakin banyak waktu dan kesempatan yang seharusnya dapat kita raih, akhirnya terlewat. Perubahan memang tidak selalu positif, tetapi bagaimana kita menyikapinya dengan positif, dapat membawa kita ke kebebasan baru yang belum pernah kita rasakan.

“Setiap perubahan memilki melankolia masing-masing;karena apa yang kita tinggalkan adalah diri kita sendiri. Kita harus mati untuk satu kehidupan sebelum memasuki kehidupan lainnya.”

– Anatole France

RELATED POST

About the author

Leave a Reply

You may also like..