5 Pelajaran Hidup Dari Catatan Harian Seorang Kaisar Roma

Halo Metagrafian!

Kali ini gue akan membahas tentang salah satu buku filosofi klasik yang ditulis oleh seorang Kaisar Roma bernama Marcus Aurelius. Seorang filsuf ternama, Plato, pernah mengatakan:

“There will be no end to the troubles of states, or of humanity itself, till philosophers become kings in this world, or till those we now call kings and rulers really and truly become philosophers.” – Plato

Nah, Marcus Aurelius ini adalah seorang kaisar sekaligus filsuf yang nyata. Meskipun begitu, ia tidak ingin disebut sebagai seorang filsuf. Ia adalah salah satu orang yang berpengaruh dalam menyebarkan tentang ajaran stoicism melalui buku yang ia tulis yang berjudul Meditations.

Marcus Aurelius menjadi Kaisar Roma selama hampir 20 tahun, yaitu pada tahun 161-180. Ia dikenal sebagai “Five Good Emperors” terakhir yang pernah menjadi seorang kaisar di Roma. Para ahli sejarah menjulukinya sebagai pemimpin yang rendah hati dan sangat loyal kepada tugasnya untuk memimpin Kekaisaran Roma.

489Marcus_aurelius

Sebelum gue cerita lebih lanjut tentang apa yang gue dapatkan dari buku ini, gue akan menjelaskan terlebih dulu tentang buku Meditations ini. Kalo sekilas kalian dengar, mungkin yang terbayangkan di pikiran kalian adalah buku ini berisi tentang bagaimana cara melakukan meditasi dan sebagainya. (well, at least itu yang gue pikirkan dulu)

Sayangnya gue salah, buku Meditations ini bukan buku tutorial atau how-to melakukan meditasi, melainkan merupakan “catatan harian” Aurelius kepada dirinya sendiri. Jadi, gaya tulisan yang ia gunakan pun seperti ketika kita mengobrol dengan diri sendiri.

Tulisan yang ada di dalam buku Meditations ini terpisah menjadi “10 Books” atau mungkin bisa juga kita sebut dengan 10 bab. Masing-masing bab memiliki tema yang berbeda dan berisi tentang pelajaran Aurelius untuk dirinya sendiri yang ia tulis selama 10 tahun.

RELATED POST:  Mencari Titik Temu Antara Passion Dan Talent

Menurut para ahli sejarah, Aurelius memang melatih dirinya untuk menulis setiap hari, sehingga banyak bisa kita temukan tulisannya yang membahas tentang medan perang terutama ketika ia ingin melakukan ekspansi terhadap Kekaisaran Roma.

Well, mungkin kita memang tidak tahu tentang kegiatan harian yang dilakukan oleh Kaisar Roma ini secara detail. Namun melalui bukunya, kita bisa mengetahui bagaimana cara ia berpikir, kebiasaan yang biasa ia lakukan dan bagaimana cara ia memandang dunia ini.

Oke, langsung aja, berikut adalah 5 pelajaran yang gue dapatkan dari catatan harian seorang Kaisar Roma ini:

1. Persepsi kita terhadap suatu hal lebih penting dari hal itu sendiri.

You don’t have to turn this into something. It doesn’t have to upset you. Things can’t shape our decisions by themselves.
– Marcus Aurelius

Ketika kita mengalami sesuatu yang menurut kita buruk dalam hidup, kita tidak perlu untuk membuatnya sebagai sesuatu yang mengecewakan. Sebenarnya, kita memiliki kekuatan untuk menerima kegagalan tersebut dan menganggapnya sebagai pelajaran tanpa harus merasakan kecewa.

2. Bersyukurlah terhadap segala hal yang kita miliki.

Treat what you don’t have as nonexistent. Look at what you have, the things you value most, and think of how much you’d crave them if you didn’t have them.
– Marcus Aurelius

Bersyukur merupakan salah satu cara agar kita tidak menderita. Kita tidak perlu fokus terhadap apa yang tidak kita miliki, melainkan kita harus menghargai apa yang telah kita punya sebagaimana adanya. Dengan itu, kita akan menjadi bahagia dan lebih menghargai hidup sebagaimana mestinya.

3. Halangan dan rintangan tidak akan menghentikan kita.

Our actions may be impeded by them, but there can be no impeding our intentions or our dispositions. Because we can accommodate and adapt… The impediment to action advances action. What stands in the way becomes the way.
– Marcus Aurelius

Kutipan tersebut merupakan inti dari ajaran Stoicism. Kita harus melihat bahwa halangan yang ada di depan mata kita bukanlah sebagai sesuatu yang akan menghentikan langkah kita untuk terus maju. Melainkan, sebagai sebuah peluang untuk terus melakukan sesuatu dan menjadi berkembang.

RELATED POST:  4 Cara Berdamai dengan Perubahan yang Tidak Diinginkan

4. Jadilah lebih terbuka dan carilah kebenaran.

If someone is able to show me that what I think or do is not right, I will happily change, for I seek the truth, by which no one was ever truly harmed. It is the person who continues in his self-deception and ignorance who is harmed.
– Marcus Aurelius

Terkadang kita terlalu keras kepala hingga buta untuk melihat yang mana yang salah dan yang mana yang benar. Kita harus tetap mencari tentang kebenaran meskipun pada kenyataannya apa yang selama ini kita lakukan merupakan sebuah kesalahan. Jadilah orang yang open-minded tapi harus tetap menjadi kritis dalam menghadapi segala masukan.

5. Jangan membuang-buang waktu dan energi untuk mengkhawatirkan perkataan orang lain.

The tranquility that comes when you stop caring what they say, Or think, or do. Only what you do.
– Marcus Aurelius

Fokuslah kepada apa yang kita kerjakan, dibandingkan dengan apa yang orang lain katakan kepada kita. Pastinya melakukan sesuatu yang membawa kebaikan itu tidak mudah. Ditengah jalan, pasti ada aja orang yang mencemooh kita. Kita tidak perlu untuk mendengarkan perkataan mereka. Fokuslah untuk terus berkembang dan menjadi lebih baik.

Kesimpulan

Pelajaran berharga tentang hidup yang bisa kita ambil dari Marcus Aurelius ini merupakan sesuatu yang sangat umum dan akan kita alami sendiri juga pada akhirnya. Namun, poin utama yang bisa gue simpulkan adalah kita memiliki kekuatan untuk mengubah diri kita sendiri untuk selalu menjadi lebih baik. Lingkungan eksternal kita tidak akan mempengaruhi siapa kita jika kita mempunyai pribadi yang kuat dari dalam.

Pahamilah diri kita, jangan dengarkan apa kata orang lain, dan jadilah orang yang lebih baik. Good Luck!

RELATED POST

About the author

An avid learner that passionate on reading, thinking, and writing. Student at Entrepreneurship SBM ITB.

Leave a Reply

You may also like..