My Awesome Life Started Right After I Challenge My Assumption

Halo Metagrafian!

Saya adalah orang yang selalu menyalahkan dan merendahkan diri sendiri. Merasa bahwa saya adalah bocah nakal, bodoh didalam lingkungan saya. Seseorang mediocre dengan tingkat kepercayaan diri yang sangat rendah.

Saya sampai merasa bahwa saya tidak pernah punya teman baik. Saya seperti kehilangan arah, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dimasa depan, apa yang harus saya perbuat untuk memperbaiki diri saya. Saya merasa sangat frustasi karena terlalu fokus kepada hal-hal negatif yang ada pada diri saya.

Saya melabeli diri saya sebagai teman yang sangat buruk, saya tidak pantas mempunyai teman baik. Bahkan tidak jarang pikiran-pikiran negative muncul di kepala seperti, “Lu ngga pantes punya teman baik”, “Semua orang ngga mau berteman sama orang kayak lu”.

Saya merasa sangat frustasi, stress dan ini adalah salah satu penderitaan terbesar dalam hidup saya. Bahkan saya sering merasa iri dengan kondisi teman-teman yang lain yang mereka bisa saling ngobrol asik.

Diperparah lagi dengan kondisi bahwa saya adalah orang dengan tingkat kepercayaan diri yang rendah, dengan diterimanya saya sebagai mahasiswa SBM ITB membuat saya sangat minder.

Banyak sekali orang-orang dengan prestasi akademik dan non akademik dikampus ini sedangkan saya adalah orang yang beruntung bisa diterima di kampus Ganesha.

Karena asumsi-asumsi negatif ini saya selalu meremehkan diri saya sendiri, membutakan mata dari potensi dan kelebihan yang saya punya, dan dampaknya adalah proses perkembangan diri saya dibangku kuliah sangatlah lambat.

Sampai akhirnya semua berubah ketika saya menjalani U-Camp Unilever Future Leader.

Banyak pembelajaran yang saya dapat selama UFLL dan momen yang menurut saya paling berdampak dan merubah diri saya adalah ketika momen ngobrol empat mata dengan Tante Irma.

Beliau adalah Head of Leadership Development Unilever. Obrolan dimulai ketika sedang dalam perjalanan dari Graha Unilever menuju Unilever Learning Center. Obrolan selama dua jam yang sedikit mengguncang pikiran dan perasaan saya, menimbulkan banyak sekali pertanyaan.

RELATED POST:  3 Hal Yang Bisa Kamu Lakukan Agar Bahagia Setiap Hari

Pertanyaan yang pertama kali muncul adalah “kenapa saya bisa diterima sebagai salah satu peserta UFLL 2016, sedangkan beberapa anak SBM yang lebih berprestasi dari segi akademis dan non akademis yang harusnya lebih layak untuk menerima hal ini?”.

Jawaban tante irma membuat saya sadar walaupun awalnya sangat membingungkan.

Kurang lebih seperti ini jawaban dari beliau, “Dari creative CV kamu, aku bisa liat bahwa kamu punya banyak potensi kamu punya karakter yang sangat kuat dan CV kamu bercerita banyak tentang dirimu, itulah kenapa kamu bisa lolos. You have a lot of potentials.”

Sepintas membuat saya kagum dan sedikit tidak percaya bagaimana seseorang bisa menilai orang lain hanya dari melihat CV sedangkan saya yang menjalani hidup 20 tahun kurang paham dengan diri saya sendiri.

Namun dari apa yang beliau sebutkan beberapa saya sadari bahwa potensi-potensi itu ada pada diri saya. Sampai obrolan itu berlanjut dan sedikit demi sedikit membuka mata dan membuat saya sadar bahwa saya lebih hebat dari yang saya kira.

Sampai akhirnya obrolan tadi ditutup dengan sebuah tantangan dari Tante Irma “Bagaimana caranya agar semua potensi yang kamu punya, kamu kombinasikan untuk mencapai purpose hidupmu? Think disruptively!” Begitu jelasnya.

Obrolan itu membuat saya jadi berpikir keras apa yang salah dengan diri saya? Kenapa begitu rendahnya saya menilai diri sendiri.

Namun masih ada satu pertanyaan lagi yang perlu saya tanyakan ke Tante Irma, satu hal yang cukup mengganggu saya selama ini bahkan hal ini sudah saya rasakan semenjak duduk dibangku SMP.

Saya merasa bahwa diri saya susah untuk mencari teman, susah untuk berhubungan dengan orang2 disekitar saya, saya menganggap diri saya adalah orang jahat, nakal dan tidak pantas untuk berteman dengan orang-orang disekitar saya.

RELATED POST:  4 Cara Berdamai dengan Perubahan yang Tidak Diinginkan

Kurang lebih begini jawaban dari Tante Irma, “Engga kok, kata siapa kamu susah nyari temen? Berdasarkan observasi aku seminggu ini kamu gampang deket dan ngobrol dengan semua orang yang ada di UFLL ini atau jangan-jangan kalo tante boleh tebak kamu tipe orang labeling, kamu melabeli diri kamu sebagi orang yang nakal, slengean.”

Jawaban yang beliau sampaikan membuat saya terkejut, sedikit perasaan tidak percaya. Namun disisilain jawaban dia perihal saya melabeli diri saya sebagai anak yang nakal dan slengean sangat ngena dihati saya.

Sampai akhirnya saya mencoba untuk mengkonfirmasi hal ini ke teman-teman dekat di kampus dan jawaban mereka juga sangat mengejutkan.

Mereka bilang bahwa saya orangnya people-person. Gampang deket dengan orang lain, bisa ngobrol dua arah dan sangat care dengan kondisi orang lain serta empati saya yang dibilang sangat bagus sebagai laki-laki yang cenderung cuek.

Dan yang lebih mengherankan lagi bagi saya adalah beberapa dari mereka salut dengan kemampuan interpersonal saya dan meminta untuk diajarkan bagaimana caranya untuk meningkatkan interpersonal skill dan leadership skill. Yang saya rasa saya ngga punya skill itu.

Dan hal ini lah membuat saya jadi berpikir dan mencoba untuk merefleksikan diri saya dimasa lalu saya orang yang bagaimana? Seperti apa? Dan sedikit semi sedikit kebuka semua rahasia tentang diri saya yang sebelumnya saya tidak menyadari hal-hal itu.

Saya sadar kenapa Tante Irma mengatakan bahwa gambar CV Gatot Kaca saya menceritakan banyak hal tentang karakter dan personality saya. Saya melihat bahwa foto Raja Maheswara dalam CV saya adalah representasi dari semua potensi saya.

Saya melihat bahwa diri saya adalah seorang raja, seorang pemimpin dengan kemampuan interpersonal yang sangat bagus, kemampuan berpikir cepat dan kreatif yang membantu saya untuk menyelesaikan semua masalah dengan mudah, self-awareness saya yang bagus untuk menyadari kesalahan kelemahan saya.

RELATED POST:  What If You Have More Than One Passion?

Sehingga saya harus cepat bangkit untuk memperbaiki diri, serta empati saya yang tinggi sehingga saya peka terhadap penderitaan orang lain, dan disempurnakan dengan kecerdasan kinestetik saya yang mempermudah saya untuk bergerak mengkoordinasikan gerak fisik saya dengan mudah.

Sebuah kombinasi yang sempurna untuk menjadi seorang raja. Dan disitulah saya merasakan jiwa seorang Gatot Kaca ada dalam diri saya bukan hanya sekedar foto atau peran.

Pada akhirnya bahwa semua yang terjadi pada diri saya adalah tanggung jawab saya. Saya tidak bisa menyalahkan orang lain bahkan diri saya sendiri.

Semua keputusan yang sudah saya ambil tidak boleh saya sesali karena semua yang menjadi takdir saya adalah yang terbaik bagi saya.

Allah tidak mungkin menyesatkan saya dengan jalan yang Ia pilihkan. Semua masa lalu saya tidak perlu lagi saya sesali saya harus berdamai dengan diri saya sendiri, saya harus memeluk kekecewaan dan kemarahan saya.

Yang perlu saya syukuri adalah Allah telah memberikan begitu banyak potensi, ”With great power comes great responsibility.”

Tugas saya sekarang adalah mengejar apa yang menjadi tujuan hidup saya dan tetap memberikan value bagi orang-orang disekitar saya dengan segala macam potensi yang ada pada diri saya.

Terima kasih Allah, orang tua saya, Unilever dan tante Irma yang telah berjasa dalam setiap langkah kehidupan saya. Dan untuk tante Irma, you changed my perception of myself and make me better than what I thought! You are the true superhero!

Jadi, jika kalian pernah mempunyai pengalaman yang sama diperbudak dengan asumsi-asumsi negatif, maka tugas kalian adalah membuktikan bahwa asumsi negatif itu adalah salah!

And after you challenge your assumption, unleash your true potential!

RELATED POST

Adi Purnomo
About the author

Leave a Reply

You may also like..