Hidup itu singkat, Hiduplah dengan Hebat!

Halo Metagrafian!

“Tidakkah kita terusik, kalau selama ini kita hanya menjadi saksi sejarah dari perjalan sukses orang lain. Bangunlah sahabat! Mulailah untuk menciptakan sejarah terbaik untuk hidup Anda sendiri. Saat ini juga!”

Itu merupakan salah satu kutipan motivasi dari buku yang ditulis oleh Yasier Utama ini. Tak sedikit kutipan-kutipan motivasi dan inspiratif muncul di buku ini. Seakan-akan merasuki jiwa dan hati. Hingga adanya keinginan untuk berubah melakukan sesuatu yang terbaik.

Hidup dengan kesadaran penuh tentu akan menjadikan manusia menjadi lebih tahu tentang apa yang harus dilakukannya. Ia akan mengemas aktivitasnya dengan baik, menghargai waktu, damai dalam bertindak, dan selalu memantaskan diri untuk menjadi pribadi yang berkualitas.

Sedangkan manusia yang hidup tanpa kesadaran, Ia akan hidup sekadarnya. Hanya melewati setiap detik kehidupan ini begitu saja. T

ak ada momen yang berharga dan bermakna untuk dikenang, diceritakan kepada anak cucu, dan menjadi sejarah yang bermanfaat untuk generasi selanjutnya. Tidak ada karya-karya luar biasa dan tidak ada goresan emas tentang kehidupannya.

“Kesuksesan bukanlah “hadiah” yang begitu saja ada di hadapan kita. Kesuksesan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dengan tenaga, pikiran bahkan air mata.”

Itu merupakan kutipan kedua favorit saya dari buku ini. Memang kita tahu untuk mencapai apa yang didambakan oleh semua orang tidak mudah.

Terkadang manusia harus merasakan penderitaan untuk memahami arti kehidupan. Terjalnya jalan kehidupan akan memberikan pemahaman mendasar tentang luka-liku meraih kesuksesan. Karena tolak ukur kesuksesan bukan terletak pada hasil yang dicapai, tapi dari sejak awal kesuksesan itu direncanakan hingga kesuksesan itu terwujud. Kita bisa menyebut hal itu sebagai proses.

Dalam buku ini, diceritakan juga mengenai kiat-kiat sederhana yang dekat dengan keseharian kita untuk hidup yang lebih baik. Sehingga pembaca akan dengan sangat mudah memahami dan menghayati setiap paragraf dalam buku ini.

Berikut saya akan menjelaskan tiga hal menarik yang saya dapatkan dari buku ini:

RELATED POST:  3 Karakter Utama Pemimpin yang Berpengaruh

1. Perubahan besar pada hidup seseorang berawal dari dirinya sendiri.

Saya mendapatkan banyak sekali kiat sukses untuk melakukan perubahan kehidupan ke arah yang lebih baik dari buku ini. Terutama pada bagian sepuluh yang berjudul “Lima Tombol Ajaib”. Saya masih ingat tentang lima tombol ajaib ini yaitu, Saya Bersyukur, Saya Berterima Kasih, Saya Mencintaimu, Saya Bersabar, dan Saya Berserah Diri.

Kelima tombol ajaib itu kini menjadi tolak ukur saya untuk melakukan perbahan dalam diri saya. Dengan bersyukur, kita sebagai manusia ciptaan Tuhan akan selalu berada dalam perlindungan dan pengawasan-Nya. Bahkan Tuhan akan tetap memeluk kita ketika dalam keadaan sedih meski kita tidak merasakannya.

Dengan bersyukur nikmat akan ditambahkan lagi oleh Tuhan kepada kita. Kemudian masuk ke dalam konteks menghargai diri sendiri dan orang lain. Berterima kasih kepada orang lain karena tugas atau pekerjaan yang sudah diselesaikannya akan sangat bermakna untuk orang itu. Ucapan terima kasih tidak hanya menjadi ucapan belaka, tapi akan sangat membekas di hati setiap orang.

Setelah itu adalah tentang cinta. Jika memang kebencian itu akan tetap ada di dunia ini, maka pemutus untuk rantai kebencian itu adalah Cinta. Dengan rasa cinta, akan tumbuh rasa kasih, lalu tumbuh rasa saling memahami dan mengerti. Disaat itulah letak kedamaian hidup berada.

Dilanjutkan dengan bersabar. Meski sering terjatuh ketika akan meraih sesuatu, bersabar merupakan tindakan yang sangat tepat dilakukan. Dengan bersabar, hati kita akan terbiasa untuk menjadi lembut dan tidak mudah dicampuri nafsu amarah.

Dan yang terakhir adalah Berserah diri. Mungkin ada di antara kita yang terbebani oleh beribu-ribu masalah kehidupan sehingga teramat sulit untuk kembali kepada kedamaian. Berserah diri kepada sang Pencipta merupakan langkah yang paling tepat bisa dilakukan. Kita akan merasakan ketenangan batin, ketentraman, kesejukan, dan kesejahteraan. Percayalah bahwa sentuhan Tuhan akan cepat terukir pada hati masing-masing manusia. Lima tombol ajaib di atas merupakan kunci untuk kita semua untuk melakukan perubahan besar pada diri kita sendiri.

RELATED POST:  The Power Pose: Menjadi Percaya Diri Dalam 2 Menit

2. Memanusiakan Manusia

Pada buku ini saya menemukan arti tentang bagaimana caranya untuk memanusiakan manusia. Beberapa hal sensitif seperti menghargai orang lain, tidak bersifat sombong, dan memiliki prinsip memaafakan orang lain, menjadi sorotan fokus saya.

Saya menjadi mengerti bahwa sekecil apapun yang orang lain lakukan harus dihargai dan diapresiasi. Karena saya sangat mengerti ketika apa yang saya kerjakan tidak dihargai oleh orang lain. Mungkin penghargaan atau lebih kita kenal dengan pujian tidak terlalu berdampak besar. Namun hal itu akan membentuk karakter rendah hati. Orang yang selalu menganggap apa yang dilakukan orang lain tidak lebih baik dari apa yang dilakukannya, harus belajar untuk memanusiakan manusia.

Ketika seorang sombong berdiri di puncak gunung, ia akan melihat orang-orang di bawahnya sangat kecil. Namun, ia tidak menyadari jika pandangan orang lain terhadapnya juga sangat kecil. Saya sadar bahwa kesombongan dan keangkuhan pada diri manusia sudah tidak dibutuhkan lagi. Menjadi hal yang kuno dan tidak ekslusif lagi.

Kesombongan dalam diri seperti api yang membakar lilin dengan perlahan. Pada akhirnya lilin itu akan habis juga. Seperti harta yang dimiliki, jabatan dan kekuasaan, popularitas, dan lainnya akan berakhir juga. Manusia akan hancur juga karena kelakukannya yang tidak dikerjakan dengan bijak. Untuk orang masih memandang rendah orang lain dan angkuh, ia masih harus belajar memanusiakan manusia.

The weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the strong. Memaafkan kesalahan orang lain terkadang terasa sangat berat. Maka dari itu, kita harus belajar untuk meluluhkan hati dan meredam egoisme. Banyak orang yang melakukan kesalahan. Dan tidak sedikit dari mereka yang bisa mengakuinya. Mungkin terlalu berat untuk membenarkannya kembali. Apalagi dengan memaafkan kesalah itu. Saya menjadi percaya pada prinsip ini. Bahwa dengan memaafkan kesalahan orang lain, akan menjadikan diri saya semakin kuat.

RELATED POST:  6 Kegiatan Yang Membuktikan Bahwa Bahagia Itu Sederhana

3. Membangun Masa Depan dari Sekarang!

Pada buku ini juga diceritakan tentang masa depan. Saya menyadari satu hal penting tentang masa depan dari buku ini. Masa depan itu bukanlah apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, tapi apa yang kita lakukan hari ini. Apa yang kita kerjakan hari ini akan menjadi cerminan masa depan kita. Refleksi masa depan dari hari ini merupakan kunci utama untuk kesuksesan seseorang.

Ketika kita masih bermalas-malasan, tidak mandiri, masih mengandalkan orang lain, dan selalu lari dari masalah, semua itu akan merusak masa depan kita dengan peralahan. Karena sifat seseorang itu terbentuk dari konfigurasi berulang-ulang, maka akan membentuk kebiasaan. Kebiasaan itu akan berujung pada karakter yang sebenarnya. Sehingga kita dapat melihat bahwa lamanya waktu seseorang dalam menggapai masa depan terbaiknya, terhambar oleh perilaku negatifnya sendiri.

Terlepas dari proses pencapaian masa depan itu, saya juga mendapatkan pencerahan tentang esensi dari masa depan itu sendiri. Melihat ke masa lalu memang penting untuk dijadikan pelajaran, namun menatap masa depan itu lebih penting untuk tetap hidup. Jadi saya mendefinisikan masa depan sebagai modal seseorang untuk tetap berjuang dan berusaha dalam hidup ini. Harapan yang terkandung pada masa depan itu akan terus tumbuh dan berkembang dari generasi satu ke generasi selanjutnya. Ketika seseorang memimpikan masa depan terbaiknya, maka akan timbul rasa dari dalam dirinya untuk melakukan usaha lebih besar dan nyata.


Kesimpulan

Itulah tiga hal menarik dari buku Awareness in the Silence karya Yasier Utama. Banyak sekali informasi, inspirasi, dan motivasi yang saya dapatkan setelah membaca buku ini. Kalimat demi kalimat dari buku ini merasuki hati dan jiwa saya dalam memahami hidup lebih baik. Ketika hidup di jalani dengan penuh rasa syukur, nikmat, sabar, dan dihayati, maka kehidupan yang sebenarnya akan tercapai.

RELATED POST

Egi Yamada
About the author

My name is Egi Septiar, and I am currently in college going for my bachelor’s degree. To begin with, in 2 years from now I hope to use my talents by being a strong leader by helping to build and inspire my colleagues by creating interactions that they feel that their opinions are being heard in solving conflicts in the world of business.

Leave a Reply

You may also like..