Mencapai Tujuan Hidup yang Memenuhi Kepuasan Batin

Halo Metagrafian!

Kembali lagi dengan tulisan Insight from Books nih. Kali ini, saya akan membahas tentang tujuan hidup manusia dalam kehidupannya, yang saya dapatkan dari buku “The Monk Who Sold his Ferrari. Sebelumnya kenapa sih saya mengangkat topik tentang tujuan hidup? Karena ternyata masih banyak orang yang belum bisa mendefinisikan tujuan hidupnya seperti apa. Dulu pun, hal itu terjadi pada diri saya loh.

Nah, setelah saya membaca buku karya Robin Sharma ini, saya mendapatkan hal-hal baru yang mempengaruhi batin saya. Hal yang selama ini hilang dari diri saya dan pencapaian hidup saya yang salah saya artikan pun sedikit demi sedikit mulai terlihat.

“Banyak orang di masyarakat kita yang mengambang seperti kapal tanpa kemudi, jiwa-jiwa gelisah mencari mercusuar yang akan mencegah mereka bertabrakan dengan batu karang.”

Itulah kondisi yang pernah saya alami belakangan ini. Teman-teman juga mungkin pernah merasakan hal yang serupa bukan? Permasalahannya terletak pada seperti apa kita menetapkan tujuan hidup kita. Bagaimana sih caranya agar tujuan hidup kita yang sebenarnya benar-benar kita miliki, bahkan bisa diterapkan sampai kepada hal-hal kecil di sekitar hidup kita yang sering terlupakan.

Berfokus pada tujuan hidup kita saja tidak cukup loh teman-teman. Kenapa ya? Karena ketika kita hanya berfokus pada tujuan hidup kita saja, dan mengesampingkan hal-hal kecil yang sebenarnya mempunyai pengaruh besar dalam proses hidup kita, tujuan kehidupan itu belum lengkap terpenuhi. Ini berlaku terlepas dari apakah teman-teman mencari kebahagiaan dunia ataukah kebahagiaan batin.

Berbicara tentang batin, pasti teman-teman semua pernah merasakan ketika hati teman-teman sangat tenang, nyaman, dan bahagia. Dalam satu kondisi, seseorang mungkin akan menemukan kebahagiaan mengerjakan apa yang disukainya. Iya kan? Hmm, marilah kita lihat perbandingannya.

“Rahasia kebahagiaan itu sederhana, carilah sesuatu yang benar-benar ingin kau lakukan dan arahkan semua energimu terhadapnya. Begitu kau melakukannya, aliran daya akan mengalir ke dalam hidupmu, dan setiap keinginanmu akan terpenuhi dengan mudah dan apik.”

Bisa kita lihat kan, ketika kita melakukan apa yang benar-benar kita lakukan dan memusatkan energi yang ada dalam diri kita untuk mengerjakannya, setiap keingingan kita akan terpenuhi dengan mudah. Kalau saya sih, ketika dulu masih merasa belum bisa menemukan kenikmatan hidup, saya mulai memutuskan untuk menulis, karena menulis adalah hobi saya. Dan ternyata, ketika saya berfokus untuk menulis, saya benar-benar menikmati pekerjaan itu. Sebab, saya memulainya dari hati.

RELATED POST:  The Dummies Guide to Face Challenge

Nah, setelah tadi kita membahas sekilas tentang tujuan hidup yang ditempuh dengan kebahagiaan batin, sekarang kita saya akan berbagi ‘Insight’ dari buku “The Monk Who Sold his Ferrariini kepada teman-teman semua tentang bagaimana caranya mencapai tujuan hidup yang memuaskan batin. Oke, kita perhatikan sama-sama ya.

Tujuan Hidup adalah Hidup yang Bertujuan

Pertanyaan pertama adalah kenapa sih kita harus memiliki tujuan hidup? Hmm, mungkin teman-teman pernah mempertanyakan hal itu dalam hati. Apakah selama ini aku sudah berada di jalan yang benar? Merasa salah jurusan ketika kuliah, tidak menikmati apa yang dikerjakan, atau bahkan tidak punya motivasi hidup. Wah, itu bisa bahaya ya guys.

Nah, jawabannya tentu adalah hidup yang bertujuan. Artinya apa sih? Maksudnya adalah hidup yang didalamnya sudah ditentukan segalanya oleh teman-teman sendiri.

1. Apa hal utama yang ingin teman-teman capai dalam hidup ini?

2. Bagaimana caranya agar tujuan itu dapat dicapai?

3. Apa yang akan dilakukan setelah tujuan itu tercapai?

Tiga pertanyaan itulah yang dulu saya pegang untuk menetapkan tujuan hidup saya. Bahkan setelah membaca buku ini, saya menyadari bahwa dengan membulatkan tekad dan mengabaikan suara-suara yang meragukan tujuan hidup saya, jiwa saya akan semakin kuat. Seperti kutipan berikut dari buku ini.

Alam semesta selalu berpihak kepada mereka yang berani. Begitu kita membulatkan tekad untuk mengangkat kehidupan ke tingkat tertinggi, kekuatan jiwa akan membimbing kita menuju tempat magis yang dipenuhi harta karun yang sangat berharga.”

Sejak itulah, saya mulai untuk memberanikan diri untuk mengambil keputusan, menjadi pribadi yang tegas dalam kebaikan, meinggalkan aktivitas tidak berguna yang hanya menguras energi saya, dan menguatkan pikiran serta jiwa untuk menenangkan batin.

RELATED POST:  The Action Automation: Mastering Your Daily Habit

Melayani Orang Lain

Why-Helping-Others-is-Good-for-Your-Health

Menurut buku ini, dengan melayani orang lain kita akan berfokus pada tujuan yang lebih tinggi. Dan menurut saya hal itu benar. Pernahkah teman-teman merasakan kepuasan batin ketika berhasil menolong orang lain yang sedang ada dalam kesulitan? Nah, titik kepuasan batin yang dirasakan itu lah yang akan membuat teman-teman semakin terfokus pada tujuan hidup yang derajatnya lebih tinggi dari sebelumnya.

“Perbuatan paling mulia yang dapat dilakukan adalah melayani orang lain. Mulailah berfokus pada tujuan yang lebih tinggi.”

Ketika kita sibuk untuk mencapai tujuan hidup kita, kita juga harus melihat orang-orang di sekitar kita yang mungkin tidak memiliki tujuan hidup, tapi mereka memiliki hati yang ditempa oleh kekuatan jiwa. Belajar dari orang-orang yang sederhana dan memiliki pandangan mendalam tentang kehidupan, merupakan langkah mulia yang bisa dilakukan. Dan setelah itu, Tuhan pun akan mendekatkan kita pada tujuan hidup yang kita rencanakan sebelumnya.


Lawanlah Pikiran Lemahmu

membersihkan-pikiran

Pikiran-pikiran negatif terkadang sering muncul begitu saja ke dalam pikiran kita, menyelinap secara diam-diam tanpa permisi. Lebih berbahaya lagi bila diri kita dikuasai oleh pikiran lemah dan negatif itu.

Nah, guys, terkadang untuk mencapai tujuan hidup kita, banyak sekali rintangan yang menghadang. Ini termasuk bermacam pikiran lemah yang mengkerdilkan tujuan hidup kita. Contohnya adalah ketika saya mendapatkan kritik dari teman saya tentang tujuan saya untuk bekerja di perusahaan Jepang. Ia mengatakan saya harus susah-payah untuk belajar bahasa Jepang dan sebagainya, padahal menurutnya itu hanya membuang waktu.

Lawanlah pemikiran lemah yang telah menyelinap diam-diam ke istana benakmu. Pada akhirnya pemikiran itu akan sadar bahwa mereka tidak diinginkan dan pergi persis seperti tamu yang tahu diri.”

Pada awalnya memang terasa menyakitkan, tapi saya mencoba untuk melawan pemikiran lemah yang terlontar dari teman saya tadi, dengan tetap mengatakan pada diri saya ‘Abaikan!!’ Ya, itulah yang saya lakukan. Lalu saya hanya tersenyum dan pergi.

RELATED POST:  3 Hal Yang Bisa Kamu Lakukan Agar Bahagia Setiap Hari

Dengan melawan pemikiran-pemikiran lemah yang menghalangi langkah kita selanjutnya, pemikiran itu pun akan pergi dengan sendirinya. Dan kita akan semakin kuat untuk mencapai tujuan hidup kita masing-masing.


Kesimpulan

Jadi, untuk mencapai tujuan hidup yang memuaskan batin terdiri dari tiga langkah. Pertama adalah menetapkan tujuan hidup, kedua adalah melayani orang lain, dan ketiga melawan pikiran lemah. Tiga cara itu harus dilakukan dalam sebuah sinergi agar tercipta pencapaian tujuan hidup yang bermakna.

RELATED POST

Egi Yamada
About the author

My name is Egi Septiar, and I am currently in college going for my bachelor’s degree. To begin with, in 2 years from now I hope to use my talents by being a strong leader by helping to build and inspire my colleagues by creating interactions that they feel that their opinions are being heard in solving conflicts in the world of business.

Leave a Reply

You may also like..