Menikmati Penyesalan Dengan Menghadapinya

Sasaran demi sasaran ditempatkan di sembarang titik, memberikan keraguan serta harapan untuk orang yang meletakkannya tanpa sadar.

Keraguan untuk berlari mengejar sasaran yang berisiko, bercampur dengan harapan untuk menikmati hasil perjalanan tersebut. Ketika sasaran tidak berhasil dicapai, campuran tadi akan melahirkan suatu rasa yang pahit. Rasa itu adalah penyesalan.

Penyesalan adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari. Selama masih ada kemungkinan alternatif, tidaklah mungkin penyesalan dapat dihindari. Kemungkinan alternatif ini tidak harus nyata, imajinasipun cukup. Selama kita bisa berkhayal pasti cepat atau lambat kita akan menyesal. Sederhana saja.

Tapi entah kenapa, tidak sedikit manusia yang menghindari rasa ini. Mungkin karena kebahagiaan hakiki tidak boleh dicemari pahitnya penyesalan?

Apapun alasannya, sepertinya sudah populer bahwa dalam hidup ini sebaiknya kita tidak menyesal. Tidak jarang saya menemukan orang menggunakan kutipan tertentu agar rasa menyesalnya hilang, misal “Namanya juga hidup. Kadang di atas, kadang di bawah.”

Yah, tidak apa-apa sih. Menahan perasaan mungkin memang perlu di saat tertentu. Namun saya meyakini bahwa penyesalan adalah rasa yang harus dialami oleh setiap manusia secara berkala. Tidak sehat apabila terus ditahan. Lagipula seandainya kita tidak menyesali kesalahan di masa lampau, mungkin tidak ada pula mimpi yang tercapai karena rasanya biasa saja melakukan kegagalan.

Yang penting kita siap belajar setiap kali rasa penyesalan itu datang. Tidak perlu mengusir rasa itu. Biarkan saja penyesalan itu ada, karena dengan keberadaannya kita sadar bahwa kita punya mimpi yang belum tercapai dan harus belajar lagi.

Sebagai catatan, saya tidak bermaksud menciptakan glorifikasi untuk kata penyesalan. Sama sekali tidak. Menyesal itu tidak enak, saya sadar betul akan hal itu. Saya juga tidak menyarankan untuk berlarut-larut dalam penyesalan seperti Gotye:

“You can get addicted to a certain kind of sadness.”

Tulisan ini hanya bertujuan untuk memberikan alternatif cara menikmati penyesalan dan berani menghadapinya. Bukan dengan mengalihkan perhatian melainkan dengan menghadapinya langsung, sehingga kita dapat terus memperbaiki diri. Lagipula apabila kita terlalu takut menyesal, kapan kita berani mengambil risiko?

RELATED POST:  5 Strategi Untuk Menemukan Passion

Mendekati orang yang disayangi itu perlu risiko loh.

Eh.

RELATED POST

Reynaldi Satrio Nugroho
About the author

Serius dengan impulsivitas. Memiliki rasa penasaran yang tidak wajar mengenai cara pikir manusia.
1 Response

Leave a Reply

You may also like..