Shades Of Grey: Ketika Hidup Tidak Hanya Tentang Hitam atau Putih

Berbicara tentang pengalaman hidup, mungkin diantara kita memiliki pengalaman hidup yang berbeda-beda.

Ada yang memiliki pengalaman hidup yang mengagumkan, ada yang memiliki pengalaman hidup yang cukup pahit, bahkan ada yang merasa pengalaman hidup mereka terbilang biasa-biasa saja.

Jika seseorang bertanya kepada saya perihal pengalaman hidup yang mana yang saya miliki, saya akan menjawab dengan lantang, “Mengagumkan!”

Setelah ibu saya meninggal di tahun 2011, saya mengalami fluktuasi kehidupan yang luar biasa sekaligus mendapatkan banyak sekali pengalaman-pengalaman yang cukup tabu.

Banyak hal-hal baru yang ‘bukan gue banget’ saya coba jalani. Seperti tidak ada rasa takut. Banyak juga hal-hal baik dan membanggakan mewarnai kehidupan saya sehingga membuat saya menjadi sebuah pribadi yang kuat dan mandiri.

Beberapa cerita pahit yang saya anggap adalah sebuah keputusan-keputusan yang salah pun sering kali menghampiri saya.

Banyak diantara teman-teman yang belum mengenali saya dengan baik walaupun usia pertemanan kita sudah terbilang cukup lama, beberapa dari mereka memandang saya sebagai seseorang yang munafik. Tidak baik, tidak juga buruk.

Di dalam pergaulan saya, saya dan teman-teman saya membagi tipe-tipe orang ke dalam tiga kelompok; Kelompok putih, kelompok hitam, dan kelompok abu-abu.

Dan saya memasukan diri saya ke dalam kelompok abu-abu.

Menurut saya, kita semua memiliki framework dan pengertian yang berbeda tentang dunia, yang pada akhirnya, kita membentuk opini yang objektif tentang apa yang kita anggap benar. Maka dari itu, setiap pengalaman yang kita miliki akan selalu membuat suatu opini yang berbeda dari setiap individu.

But why peoples always blame other “You’re black” or “You’re white”? Then just fight for our argument for “what is right” or “what is wrong”.

Tak kala, jika saya menceritakan pengalaman hidup saya tentang sesuatu hal yang buruk, beberapa teman saya berkomentar, “Nanggung! Kalau kamu mau nakal, ya nakal sekalian aja!”. Tak kala pula, jika saya melakukan hal yang baik, tetap saja ada yang berkomentar dengan cara membandingkan hal baik saya itu dengan sebuah pengalaman buruk saya di masa lalu.

RELATED POST:  You Don't Have To Be An Expert on Everything

Oh, C’mon! Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang selalu benar, begitu pun sebaliknya.

Kita semua selalu memiliki sisi abu-abu di dalam diri kita. Setiap keputusan yang kita ambil di dalam hidup kita selalu berdasarkan tentang apa yang kita anggap benar melalui pengalaman hidup kita dan bagaimana kita melihat dunia.

“I did then what I knew how to do. Now that I know better, I do better” – Maya Angelou

Sebelum melempar panah pada satu sama lain, tak bisakah kita saling mendengarkan satu sama lain terlebih dahulu?

Lalu, siapakah yang benar? Siapakah yang salah? Who cares? Apa gunanya kita saling menyalahkan?

Apakah jika kita berada di kelompok yang sama, kita akan berada di suatu tempat yang sama?

Mari kita berhenti menyalahkan, mari kita saling merangkul, karena sebagai manusia, kita lebih memiliki banyak persamaan daripada perbedaan.

Mungkin diantara kita; kita semua sedikit cerdas dan agak bodoh. Mungkin kita semua sedikit egois, walaupun selalu berusaha menjadi sosok yang bijaksana.

Tetapi bagaimanapun juga, kita telah menjadi manusia yang cukup sempurna menjadi sebuah individu.

This dynamic-the gray area-that’s our santuary, our safe place, and our true home in this world. It doesn’t have to be right-merely understood.

Hitam dan putih. Yin and Yang.

Disini, saya tidak bermaksud untuk mencari kelompok mana yang lebih sempurna, melainkan untuk menemukan keindahan dalam area abu-abu di dalam kehidupan yang sedang kita jalani ini.

Tentu saja, hal tersebut akan terasa begitu berantakan dan menakutkan, sedih dan kadang-kadang begitu terasa menyakitkan, begitu naif, tetapi juga kamu bisa merasakan kegembiraan, kemenangan, dan keindahan.

RELATED POST:  Tahun Baru, Prasangka Baru

Kembali lagi pada opini-opini tentang orang-orang di sekitar kita yang selalu menilai sesuatu hanya sekedar suatu hal yang salah adalah salah, dan yang benar sudah pasti benar, saya sering kali hanya tersenyum mendengar pendapat mereka tentang diri saya.

Kemudian saya berpikir, “Mungkin mereka belum pernah mengalami ini, jadi tidak tahu rasanya seperti apa.”

Saya tidak bisa sepenuhnya menjadi “Hitam” atau sepenuhnya menjadi “Putih”.

Saya tidak bisa selalu benar karena saya masih sering melakukan kelalaian dan kesalahan, saya pun tidak bisa sepenuhnya menjadi hitam, karena saya sangat menyayangi diri saya dan ingin menjalani hidup pada zona yang aman dan baik.

Saya hanya berpikir, untuk benar-benar mencintai yang seharusnya kita lakukan adalah menerima sifat yang tidak sempurna dari orang-orang di sekitar kita.

Mengapa? Because we are just imperfect.

Tidak ada satu pun orang di dunia ini yang memiliki pengalaman yang benar-benar sama. Sudah jelas bukan, tidak akan ada satu pun orang yang akan memiliki pemikiran yang benar-benar sama dalam menghadapi kehidupan.

Permasalah-permasalahan itu, keputusan-keputusan itu, pemikiran-pemikiran itu, dan perasaan-perasaan itu, tidak akan pernah sama.

Kamu tidak selalu memiliki semua jawaban dan kamu tidak selalu benar, jadi berhentilah bersikap seolah-olah kamu adalah seseorang yang paling benar dan tahu segala-galanya.

Because I much prefer the idea of understanding.

RELATED POST

Ranti Dwi Lestari
About the author

Lion and cat in one human body, arrogant but deeply warm.

Leave a Reply

You may also like..