Tahun Baru, Prasangka Baru

Sedang berada di depan gadget atau laptop sekarang? Bagus.

Saya yakin kamu mendapat banyak sekali informasi tahun ini. Mulai dari informasi dalam lingkup internasional misal viralnya “om telolet om” di LINE Today sampai lingkup kecil seperti gosip di chat LINE bersama teman.

Walaupun mungkin kamu hanya membaca sekilas dan tidak menyimak dengan serius, akui saja informasi yang beredar itu memengaruhi pemikiran kamu tanpa disadari. Sehingga suka ataupun tidak, kamu akan menghadapi tahun berikutnya dengan prasangka baru yang terbentuk sepanjang tahun ini.

Santai, tidak usah menyangkal ataupun merasa bersalah. Beranggapan sebelum mengetahui sesuatu sendiri adalah hal yang sangat manusiawi kok.

Manusia diciptakan untuk berpikir berdasarkan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Konsekuensinya dalam menghadapi peristiwa baru, manusia akan berprasangka berdasarkan pengalamannya tanpa perlu pikir panjang. Sebaliknya, manusia perlu usaha ekstra untuk mengesampingkan prasangka dalam berpikir.

“Aku ngefans sama kak Awkarin dan Young Lex!”

“Your friend shared LINE@ Account Prestigeholics’s Post.”

“Gue sih prefer Chelsea Islan dibanding Tatjana Saphira.”

Otomatis kan? MANTAP.

Terserah kamu mau berprasangka seperti apa. Saya abstain. Oke cukup bercandanya.

Mungkin contoh tadi remeh, tapi sekarang saya akan menunjukkan kasus cukup fatal yang disebabkan oleh prasangka manusia dan mungkin bisa menimpa kita semua. Seperti manusia pada umumnya, dalam setahun pasti kita pernah berbuat minimal satu kesalahan yang terlihat buruk di mata orang lain. Kesalahan tersebut di era bajir informasi ini akan sangat mudah tersebar, sehingga perlahan akan terkumpul menjadi bahan yang tepat bagi orang lain untuk membangun prasangka buruk mengenai kita.

Nah, jika kamu fokus membaca tulisan ini dari awal, seharusnya kamu mengerti bahwa prasangka sulit untuk dikesampingkan. Mungkin kita bisa meluruskan prasangka yang salah, namun pada akhirnya di lain waktu prasangka baru akan muncul kembali selama ada informasi mengenai kita. Begitu saja terus berulang dari tahun ke tahun. Ibarat memotong kuku yang terus tumbuh. Mungkin begitu analogi yang tepat.

RELATED POST:  The Dummies Guide to Face Challenge

Lantas harus bagaimana menyikapinya? Ya terima saja pada tahun berikutnya setiap manusia akan membentuk prasangka baru, entah baik atau buruk. Jangan dibawa perasaan berlebihan juga kalau bertemu konflik karena prasangka nanti. Toh kita tidak bisa berharap orang lain menghilangkan prasangkanya sendiri terhadap sesuatu, karena prasangka terbentuk di luar kendali orang tersebut.

Ingin mengubahnya? Selamat bekerja keras, setidaknya kamu sudah tahu bahwa menghilangkan prasangka mirip seperti menggunting kuku namun jauh lebih sulit. Mungkin hal terbaik yang bisa kita lakukan hanyalah terus memperbaiki diri supaya kesalahan lampau tidak menjadi bahan dasar prasangka terus menerus.

Ah, seandainya identitas bisa dilepas. Mungkin tidak akan ada prasangka di dunia ini. Pernah ngga sih terpikir untuk menjadi manusia yang bisa menembus persepsi tanpa nama dan jejak sejarah? Bebas dari prasangka orang lain. Masuk ke dunia di mana tidak ada seorangpun yang menilai kita selain dari amal dan perbuatan kita secara keseluruhan. Eh, maaf kalau terdengar seperti akhirat. Oke serius, memang kenyataannya prasangka akan selalu ada. Akun official LINE anonim saja bisa terkena prasangka, apalagi manusia.

Tapi terlepas dari semua hal-hal negatif yang dibumbui sifat melankolis saya tadi, saya mengakui ada makna di balik prasangka yang seringkali dicap negatif saja. Pertama, prasangka memang diperlukan supaya kita tidak bingung menghadapi acaknya dunia ini. Ungkapan wanita butuh kepastian itu salah, yang benar itu seluruh umat manusia butuh kepastian. Selain itu dengan prasangka, seharusnya kita mampu memaknai pertemanan lebih baik.

Apabila kamu berhubungan dengan orang yang rela berusaha melepas kacamata prasangkanya secara rutin untukmu, bersyukurlah. Jaga hubungan tersebut baik-baik. Sulit untuk menemukan orang seperti itu. Dan apabila kamu belum menemukan orang seperti itu dalam hidupmu, semoga kamu lekas bertemu dengannya. Untuk paragraf terakhir ini, saya serius.

RELATED POST:  Hidup itu singkat, Hiduplah dengan Hebat!

Memang betul tahun baru nanti akan disertai dengan prasangka baru pula, namun apalah artinya jika kamu punya orang-orang yang rela mengesampingkan prasangkanya untukmu di saat penting? Selamat menyambut prasangka baru!

RELATED POST

Reynaldi Satrio Nugroho
About the author

Serius dengan impulsivitas. Memiliki rasa penasaran yang tidak wajar mengenai cara pikir manusia.

Leave a Reply

You may also like..