Potensi Dibalik Introversi

“Pemalu, pendiam, anti sosial, ngga gaul”

Mungkin kata-kata itulah yang kita pikirin ketika kita berbicara tentang seorang introvert.

Hal tersebut sangat wajar kalo kita perhatikan bahwa orang-orang intorvert itu emang cenderung lebih pendiam dibandingkan orang ekstrovert.

Buat yang merasa dirinya introvert pasti pernah berpikir seakan-akan dunia ini dipenuhi sama orang-orang yang jago ngomong, pinter presentasi, berani berinisiatif dll.

Di berbagai kegiatan rapat, seminar, kelas, ataupun acara debat di televisi, orang-orang saling berlomba untuk berbicara, mengeluarkan pendapat, bahkan kalo bisa mengalahkan argumen lawan bicaranya.

Di tengah-tengah kenyataan yang kita jumpai saat ini, bisa jadi kita secara ngga sadar nge-judge bahwa introvert itu orangnya selalu tertutup dan ngga mau menampilkan dirinya.

Tapi jangan salah sangka dulu, di dalam buku yang berjudul Quiet: The Power of Introvert in a World That Can’t Stop Talking, Susan Cain akan ngebuka mata kalian tentang apa sebenarnya konsep introversi itu.

Nah, Susan itu adalah seorang peneliti yang jadi pembicara dari ratusan topik-topik yang ngebahas tentang intorvert itu sendiri. Coba bayangin, dari seluruh pengalaman hidupnya ia rangkum menjadi satu buku yang berisi insight-insight berkualitas.

Ia menjelaskan bahwa selama ini secara turun-temurun kita memiliki pandangan bahwa ekstroversi adalah sebuah gambaran sifat ideal manusia. Susan menyebutnya sebagai sebuah “Extrovert Ideal“, sebuah kondisi yang semakin menegaskan dominasi orang ekstrovert atas orang introvert.

Gue akan sedikit bercerita pengalaman gue sebagai seorang yang introvert yang kuliah di salah satu sekolah bisnis. Pada semester awal kuliah, di kampus gue itu ada mata kuliah wajib namanya “Performance Art“.

Nah, di mata kuliah ini seluruh mahasiswa DIWAJIBKAN untuk menampilkan sebuah teater di depan auditorium hampir setiap minggunya. Dan waktu itu tuh rasanya gue takut banget sama yang namanya tampil di depan umum. Bukannya karena gue ngga mau kerja, tapi gue saat itu ngga ngerasa nyaman aja buat tampil di depan banyak orang.

RELATED POST:  Pentingnya Membangun Jaringan dari Bangku Kuliah

Sialnya lagi, mata kuliah ini tuh selalu maksa lu harus ngangkat tangan dan nyampein pendapat kalo mau dapet nilai. Jadi, temen-temen gue yang ekstrovert akan selalu mendominasi dibandingkan orang-orang introvert kaya gue haha.

Untungnya, karena di setiap penampilan selalu ada bagian-bagian yang kerjaannya bikin visual, penata musik, dokumentasi, gue selalu berusaha sebisa mungkin untuk ngambil peran yang dibelakang layar itu dibandingkan tampil di depan satu angkatan. Ya, itulah contoh kondisi “Extrovert Ideal” yang ada di kehidupan gue.

Ada beberapa insight menarik yang bisa gue ambil dari buku ini yaitu:

1. INTROVERT ≠ SHYNESS

Banyak orang yang salah mengartikan bahwa introvert itu sama kaya orang yang malu-malu atau ngga mau membuka dirinya. Tapi sebenernya pemikiran ini tuh ngga bener. Shyness atau malu-malu itu sebenernya adalah rasa takut terhadap pandangan orang lain sedangkan introversi itu kaitannya adalah dengan gimana cara kita ngerespon suatu stimulus atau suatu rangsangan yang ada disekitar kita.

Seorang intorvert akan lebih merasa nyaman ketika berada di lingkungan yang lebih sepi atau menyendiri. Contohnya pasti ada satu orang di kelas lu yang keliatannya diem aja di belakang sambil ngebaca buku, sebut saja namanya Yuri. Kalo di kelas gue biasanya gue sih yang kaya gitu ahaha. Lanjut, si Yuri itu tuh bukannya ngga mau bergaul sama temen-temennya, tapi dia lebih nyaman dan butuh waktu buat sendiri. Hal ini juga ngga berlaku mutlak ke semua introvert kok, belum tentu juga si Yuri itu berarti malu buat bergaul sama orang lain.


2. NO ONE IS PURE INTROVERT OR PURE EXTROVERT

Kadang ada pandangan yang salah juga nih tentang introversi. Pasti kalian pernah ada yang berpikiran “Ah gue kan introvert, berarti gue ngga bisa ngomong di depan orang dong” atau “Ah gue kan introvert, berarti gue mojok aja ah ngga usah bergaul ah sama orang lain”. Sadar bro/sis! pandangan kaya gitu tuh salah, lu cuman ngejadiin sifat introvert lu itu sebagai excuse aja.

RELATED POST:  Coping with Stress: How to Assess Your Stressful Situations

Ngga ada orang yang seutuhnya introvert atau seutuhnya ekstrovert. Pasti ada sedikit sifat kebalikannya di diri tiap orang. Poin gue sih jangan ngejadiin introversi sebagai tameng biar lu ngga bergaul sama orang lain, karena bergaul tuh perlu buat kehidupan lu at least sekali-kali aja. Nanti menyendirinya lagi pas udah dikamar aja haha.


 3. INTROVERT CAN BE A LEADER TOO

Buat yang ngerasa ngga pede buat jadi pemimpin karena dirinya introvert, jangan salah, banyak kok pemimpin-pemimpin dunia ini yang sifat dasarnya introvert. Kita ambil contoh Bill Gates, siapa sih yang ngga kenal Bill Gates? Bos dari Microsoft ini sesungguhnya adalah seorang yang introvert.

Ketika SMA, ia selalu menghabiskan waktunya untuk koding dan belajar komputer semalaman di lab komputer University of Washington sendirian. Terus gimana bisa dia menjadi sesosok pemimpin yang harus bisa berbicara di depan banyak orang? Awalnya, keadaanlah yang mengubah Gates, ambisinya yang tinggi untuk mengembangkan Microsoft mendorong dia untuk “berpura-pura” menjadi seperti seorang ekstrovert dan belajar agar bisa lihai dalam public speaking dan bernegosiasi.

Di bukunya, Susan juga mengatakan bahwa pemimpin yang introvert mendapatkan hasil yang lebih baik ketika ia memimpin anak buah yang proaktif. Hal tersebut terjadi karena ia cenderung untuk membiarkan akan buahnya menjalankan ide mereka. Dibandingkan dengan ekstrovert yang selalu get excited dan ingin namanya selalu ada di ide-ide besar yang hasilnya malah menutupi potensi anak buahnya.


Kesimpulan

Nilai yang bisa kita ambil dari buku ini adalah pentingnya untuk menghargai setiap individu gimanapun sifatnya. Beri kepercayaan yang sama kepada setiap individu untuk mengikuti diri aslinya. Nah jangan lupa beri ruang yang cukup bagi mereka untuk berkembang. Di dalam sebuah organisasi, jangan paksakan setiap individu untuk terus bersosialisasi setiap saat.

RELATED POST:  Menjadi Pembaca yang Cerdas

Biarkan orang yang introvert untuk menyelesaikan sebuah tantangan secara sendirian atau dalam kelompok kecil, biarkan ia berpikir dan merenung, karena dengan demikian ide-ide yang brilian justru akan mengalir dengan deras. Namun, bukan berarti juga introvert lebih baik daripada ekstrovert ataupun sebaliknya. Keduanya merupakan sifat yang sama baiknya ketika digunakan pada waktu dan tempat yang tepat. 

RELATED POST

About the author

An avid learner that passionate on reading, thinking, and writing. Student at Entrepreneurship SBM ITB.
3 Responses
  1. Reza W.

    Mungkin ini klise, tapi saya memilih untuk dilahirkan sebagaimana saya dulu dilahirkan, entah itu introvert, ekstrovert, ataupun ambivert.

    Saya yang sekarang terbentuk karena keadaan ketika saya dulu dilahirkan, kalau ada aspek yang berubah sedikit saja, saya yang sekarang akan berubah jauh (butterfly effect).

    Dan saya merasa bersyukur menjadi saya yang sekarang.

Leave a Reply

You may also like..