The Power of Thinking Without Thinking

Halo Metagrafian!

“The key to good decision making is not knowledge. It is understanding. We are swimming in the former. We are desperately lacking in the latter.”

Malcolm Gladwell, Blink: The Power of Thinking Without Thinking

Pada bulan September 1983, Gianfranco Becchina menawarkan sebuah patung Kouros ke Museum J. Paul Getty di California. Konon patung ini hanya ada sekitar 200 buah di dunia, dan kebanyakan ditemukan dalam keadaan rusak. Berbeda dengan Kouros pada umumnya, kouros yang ditawarkan Becchina terpelihara dengan sempurna, bahkan tampak terawat dengan sangat baik.

Museum J. Paul Getty curiga dengan penemuan ini, namun setelah dilakukan penyelidikan panjang dengan berbagai peralatan modern selama 14 bulan, didapatkan bahwa patung ini diprediksi telah melewati masa ratusan bahkan ribuan tahun lamanya. Dalam kata lain, kouros ini merupakan benda purbakala asli, bukan tiruan. Museum Getty puas, dan memutuskan untuk membeli patung tersebut.

Ac.kleobisandbiton

Musim gugur 1986, kouros tersebut dipamerkan untuk pertama kalinya. Ketika dipamerkan di Museum Getty, banyak dari pakar, mulai dari pakar sejarah, arkeolog, hingga pakar seni merasa “ada yang kurang pas” dengan patung tersebut. Museum Getty yang telah melakukan deal dengan Becchina mulai merasa janggal dengan keadaan tersebut. Penyelidikan lebih lanjut dilakukan, dan belakangan, sedikit demi sedikit, kasus ini mulai tersingkap.

Dokumen dari patung ini ternyata palsu. Sekilas kouros yang ditawarkan Becchina memang terlihat meyakinkan, penyelidikan pertama selama 14 bulan juga menyimpulkan bahwa benda tersebut asli purbakala. Kendati demikian, para ahli sudah bisa merasakan terlebih dahulu “penolakan intuitif” terhadap patung tersebut hanya dalam 2 detik pertama. Dua detik pertama itulah yang Malcolm Galdwell jelaskan dalam bukunya berjudul Blink: The Power of Thinking Without Thinking.

Thin-Slicing & Rapid Cognition

Hampir setiap kali kita diharuskan untuk membuat keputusan secara cepat dan tepat. Dengan banyaknya informasi yang ada, sungguh bukan jalan yang tepat jika kita memproses semua informasi tersebut. Malcolm Galdwell menjelaskan teknik thin-slicing, yaitu mengambil cuplikan tipis informasi yang ada. Tidak sembarang orang dapat melakukan thin-slicing yang tepat pada suatu permasalahan.

RELATED POST:  3 Hal Yang Bisa Kamu Lakukan Agar Bahagia Setiap Hari

Seperti pada kasus Museum Getty, thin-slicing ini didapat dari mereka yang telah berpengalaman dalam bidangnya. Pengalaman tersebut tersimpan dalam bawah sadar adaptif (adaptive unconscious). Inilah mengapa ketika kita mengendarai mobil, kita tahu kapan kopling, gas, atau rem harus diinjak secara tidak sadar. Berbeda sekali ketika kita pertama kali belajar mengendarai mobil, kita berpikir secara sadar kapan kopling harus diinjak dan lain sebagainya.

Dalam dunia militer, jendral-jendral cermelang memiliki coup d’oeil, istilah Prancis yang berarti power of glance: kemampuan melihat dan menghayati medan tempur dengan cepat. Contohnya seperti Napoleon. Contoh lain, pakar burung David Sibley pernah melihat seekor burung sedang terbang dikejauhan 200 meter dan langsung mengetahui bahwa itu seekor burung yang sangat langka. Padahal ia tidak punya waktu cukup untuk mengidentifikasi secara cermat. Sense seperti ini disebut giss. Kemampuan ini tidak bisa dapatkan secara instan, feel and sense hanya dapat dimiliki dengan sempurna oleh orang-orang yang mempunyai jam terbang yang tinggi.

Snap Judgment

Setelah pengambilan cuplikan tipis (thin-slicing), kita memahami keseluruhan informasi tersebut secara cepat (rapid cognition). Selanjutnya, kita tertuju pada kesimpulan sekejap (snap judgment). Snap judgment merupakan kesimpulan sekejap atau first impression terhadap suatu hal. Snap judgment ini diambil dari pengalaman yang tersimpan dalam alam bawah sadar. Jika saya mengambil nama Dika, Andi, dan Bram, kita akan segera menyimpulkan bahwa itu nama laki-laki. Ketika saya mengambil nama, Sarah, Lisa, dan Jeni, kita akan segera menyimpulkan bahwa itu nama perempuan. Hal ini yang disebut dengan snap judgment.

Snap judgment secara tidak bijak bisa saja menuju pada kesalahan fatal. Presiden Amerika ke-29 Warren Harding, dalam buku Blink, merupakan presiden terburuk dalam sejarah Amerika. Warren Harding bukanlah orang yang piawai dalam menjabat sekelas presiden. Dia merupakan seorang editor surat kabar dari Ohio yang dikabarkan akan menjadi senator. Sekilas, dia memiliki perawakan tegap dan tampan, sehingga cocok sekali untuk menjabat menjadi presiden. Berkat Harry Daugherty, karir Warren Harding melonjak dibidang politik. Setelah menjadi anggota senat, Warren Harding memenangkan pemilu presiden dan mulai menjabat pada tahun 1921. Warren Harding menjabat 2 tahun hingga akhirnya meninggal dunia dengan kinerja yang buruk.

RELATED POST:  Coping with Stress: How to Assess Your Stressful Situations

Dari sini, snap judgment yang dilihat orang-orang terhadap fisik Warren Harding sungguh meyakinkan bahwa orang ini layak untuk menjabat sebagai presiden. Namun kita bukanlah orang yang ahli dalam bidang politik, sehingga kita terkecoh dengan penampilan Warren Harding. Seperti Museum Getty yang terkecoh dengan hasil penyelidikan pertama patung kouros. Oleh karena itu, snap judgment bukan berarti menyimpulkan sesuatu dengan asal-asalan.

Pentingnya Thin-slicing

Bayangkan ketika kita dihadapkan pada situasi terjepit. Anggap saja ketika gempa disebuah gedung bertingkat. Flight or fight respon memberikan sinyal bagi kita untuk segera memutuskan sesuatu dengan cepat, yaitu selamat. Thin-slicing yang kita ambil adalah hanya pada informasi yang menjurus untuk secepat mungkin keluar dari gedung. Kita tidak akan memproses bagaimana pekerjaan kita, apakah tadi komputer masih menyala atau tidak. Kita hanya akan mencari jalan, bagaimana cara agar selamat. Keputusan yang diambil dari campur aduk informasi yang tidak relevan, membuat diri kita lambat untuk memproses hal yang terpenting.

Kesimpulan

Buku Blink menjelaskan semua hal tentang thin-slicing, rapid cognition, dan snap jugment. Bagaimana tahu sedikit berarti banyak. Buku ini tidak menjelaskan secara gamblang teknik-teknik tersebut, namun lebih memberi gambaran dari cerita-cerita mengenai penggunaan thin-slicing, rapid cognition, dan snap jugment. Dari sedikit cuplikan review (thin-slicing) tentang buku Blink ini mungkin kamu bisa menyimpulkan sendiri (snap judgment) bagaimana isi buku buatan Malcolm Galdwell ini.

When Less is More, Blink is about The Power of Thinking Without Thinking.

RELATED POST

Dery Rahman Ahaddienata
About the author

Front-end Web Developer from Yogyakarta, Indonesia.
1 Response
  1. I must say it was hard to find your blog in google.

    You write awesome content but you should rank your page higher
    in search engines. If you don’t know 2017 seo techniues search
    on youtube: how to rank a website Marcel’s way

Leave a Reply

You may also like..