Menjadi “The Whole Package” dengan Membaca

Halo Metagrafian!

Menjadi salah satu generasi muda yang hidup di perkembangan teknologi yang begitu pesat, saya memperhatikan adanya suatu fenomena aneh yang terjadi pada generasi saya dan setelahnya. We’ve been attached to this one thing we carry everywhere, our cellphones.

Apa yang aneh dengan alat komunikasi kita itu? Fenomena generasi menunduk telah begitu akrab di telinga, bahkan sudah tidak menjadi hal yang dianggap aneh oleh masyarakat. Hal itu disebut sebagai “perubahan zaman”, yang kian lama kian dianggap lazim. Meskipun begitu, ada sesuatu yang kerap mengganggu mata dan batin saya, yang saya harus bilang “tak sepatutnya hal tersebut dianggap hal yang lazim!”

Fenomena yang saya maksud, yang begitu mengganggu saya, yang menurut saya tak lazim, adalah keadaan gaya hidup yang begitu mementingkan “appearance”. Penampilan, menjadi hal yang begitu diagungkan. “You’re not going to fit in if you don’t use this product, or this brand. Astaga, kamu tidak tahu ini gaya foto yang baru? Hey, hey, it’s on the trend now, let’s try to do it! “  Percakapan seperti itu kerap terdengar di sekitar saya.

Well, untuk para generasi muda di luar sana, kehidupan sesungguhnya tidak selalu mementingkan penampilan. Apa yang kalian gelisahkan sekarang, baju apa yang harus kalian pakai, lipstik atau gaya rambut apa yang sesuai, sepatu apa yang sedang tren dan belum kalian miliki, akan tenggelam seiring waktu berjalan. Akan selalu ada tren baru yang menggantikan tren terkini, sehingga kalian tidak akan habis-habisnya gelisah.

Mau tahu apa yang lebih tahan lama dibandingkan penampilan kalian? Apa yang bisa membuat dirimu menjadi sebuah paket utuh yang  dapat diperhitungkan orang-orang di sekitarmu, bahkan di seluruh dunia kelak? Pengetahuan dan kreativitas. Yes, your knowledge and creativity is ever-lasting, hal yang jauh lebih berharga untuk digelisahkan. Bagaimana caranya mempertahankan dan meningkatkan pengetahuan? Ada banyak cara tentunya, tapi dari sekian banyak orang yang saya kagumi, yang mampu menginspirasi saya serta orang-orang di sekitar saya adalah mereka yang  meningkatkan pengetahuan dan kreativitas yang mereka miliki melalui membaca.

Berbicara berdasarkan pengalaman, membaca membantu saya berhubungan dengan kehidupan. Beruntung bagi saya, karena sudah terdorong untuk membaca sejak kecil. Berjarak 6 tahun lebih muda dari kakak saya satu-satunya, membuat saya ingin bisa melakukan segalanya dengan cepat agar bisa mengimbanginya.

Sebagai anak kecil yang masuk tahap imitating stage, wajar rupanya untuk selalu ingin melakukan hal yang sama dengan kakak sendiri. Saat kakak saya makan sesuatu, saya juga harus makan itu. Saat kakak membeli sesuatu, saya harus turut membeli barang itu. Alhasil, ketika kakak saya membaca, saya yang saat itu belum paham huruf a-b-c-d pun tetap bersikeras ingin ikut membaca. Sesudah berbulan-bulan hanya membolak-balik buku, ketertarikan saya akhirnya dimanfaatkan orang tua untuk mendekatkan saya pada buku dan pengolahan kata-kata. Saya masih ingat beragam bacaan yang saya baca di awal-awal, mulai dari serial anak Mizan, majalah Bobo, hingga beberapa komik yang dirasa pantas untuk saya baca.

Mulainya membaca sejak dini, membuat saya dapat lebih dulu memahami dunia sebelum kebanyakan anak lain memahaminya. Ketika saya sudah melahap habis cerita-cerita rakyat seperti Malin Kundang, Timun Mas, dan lain-lain di  ketika saya TK, tanpa sadar saya telah menanamkan pemahaman mengenai kejujuran dan keberanian. Hal yang sama terjadi terus seiring saya beranjak menjadi remaja dan dewasa.

Setelah saya membaca sebuah cerpen yang menceritakan anak yang suka marah-marah dan akhirnya merasa jelek dibandingkan teman-teman lainnya, melihat bagaimana Ia berubah untuk lebih ramah dan lebih suka membantu ternyata membuat dirinya merasa begitu cantik, saya pun turut mencoba untuk lebih ramah sehingga dapat menjalin hubungan baik dengan teman-teman saya. Di saat yang lain masih suka memperebutkan barang, seringkali saya menjadi penengah.

Saya juga tumbuh menjadi anak yang tidak banyak mengeluhkan pekerjaan rumah ataupun tugas lain yang diberikan, karena ada bacaan yang menggambarkan kondisi orang-orang di luar sana yang lebih tidak beruntung. Segala perangai tersebut akhirnya membuka macam-macam kesempatan baru bagi saya, mulai dari kekayaan perbendaharaan kata saya yang sempat membuat saya ditunjuk untuk berbagai lomba, menjadi ketua kelas, misalnya. Sekarang pun saya masih merasakan peran bacaan saya. Beberapa buku akhirnya membuat saya mampu melewati segala kesulitan dan tantangan, dan kini banyak yang meminta saran kepada saya terkait apa yang sedang mereka hadapi.

Berbagai keuntungan dalam hidup dan berbagai kesempatan yang terbuka karena dekatnya saya dengan berbagai sumber bacaan sejak kecil membuat saya sadar bahwa apa yang kamu baca adalah apa dapat yang kamu ketahui, dapat kamu bayangkan, dapat kamu kembangkan, dan dapat kamu tanamkan dalam hidup. Semakin sedikit kita membaca, semakin sempit dunia kita. Semakin juga kita sulit dalam berhadapan dengan orang lain, karena seringkali tidak bisa membayangkan apa yang orang lain bicarakan. Tanpa memperluas pengetahuan, akan sulit bagi kita meraih orang-orang besar yang dapat membantu kita untuk berkembang lebih.

So, kenapa tidak mulai mengurangi rasa gelisah soal penampilan, dan mulai meningkatkan inner beauty-mu melalui membaca? Penampilan bagus dan pemikiran berisi, bukankah menarik untuk menjadi pribadi yang memiliki keduanya? Penampilan tidak abadi, tapi pengetahuan, kreativitas, dan perilaku yang positif akan terus dikenang sepanjang masa!

 

RELATED POST:  Mindfulness Reading: How To Multiply Your Focus While Reading

RELATED POST

About the author

Leave a Reply

You may also like..